Tim kecil yang pernah jalanin warung kopi sendiri. Kami tahu rasanya ribetnya tutup buku jam 12 malam, jadi sistem ini didesain untuk staf yang capek bukan akuntan yang sabar.
Banyak POS yang dibuat untuk pasar AS atau Eropa lalu di-localize seadanya untuk Indonesia — UI campur Bahasa Inggris, struk thermal pakai format yang tidak diterima KPP, integrasi QRIS yang setengah-setengah. Posz dimulai dari titik nol Indonesia: QRIS sebagai default (bukan plug-in), NPWP + Faktur Pajak built-in, struk 58/80mm yang sudah pernah dicek pajak, label cabang dalam Bahasa, dan support di jam kerja Jakarta.
Software harus jalan tanpa internet — tablet kasir di pinggir jalan kadang putus signal, kerjaan tidak boleh berhenti. Tutup buku harus selesai sebelum staf pulang, bukan jam 1 pagi setelah ekspor manual ke Excel. Tamu yang scan QR tidak boleh disuruh download app — mereka cuma mau pesan kopi. Kasir yang sibuk jam ramai tidak boleh nunggu loading spinner. Setiap fitur Posz dievaluasi dengan satu pertanyaan: apakah ini bikin shift jadi lebih cepat selesai?
Berbasis di Jakarta. Onsite untuk Jabodetabek (kami datang ke outlet untuk onboarding + go-live); remote setup dengan satu kunjungan hari-H untuk kota lain di Indonesia. Engineering dipegang langsung oleh founder — tidak ada layer support yang harus eskalasi 3 kali sebelum sampai ke yang ngerti.
Kami rilis update fitur seminggu sekali, tanpa downtime. Setiap merchant dapat changelog email pas ada perubahan yang relevan. Tidak ada penjualan agresif: kalau Posz tidak cocok untuk usahamu, kami akan bilang. Pricing transparent, kontrak bulanan (bukan tahunan dengan denda exit).